Blogroll

Sabtu, 12 Mei 2012

Hermeneutika

PENGGUNAAN HERMENEUTIKA DALAM STUDI ISLAM

 MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah : Pengantar Studi Islam
Dosen Pengampu : Ahmad Zuhruddin, M. Ag


iain-walisongo1.png
 









Disusun Oleh :

Siti Nurul Hidayah                : 113211076
Syawa’iqul Muhriqoh Zain  : 113211077
Fatchul Amar                        : 113211081

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012

I.                   PENDAHULUAN
Hermeneutika merupakan suatu disiplin yang bersangkut paut dengan motif-motif dan maksud-maksud yang dengan mudah bisa diketahui melalui kata-kata yang ada secara eksplisit.
Hermeneutika disesuaikan dengan dimensi yang tak terkatakan ini sejauh dia mendefinisikan dirinya sendiri secara traxisional sebagai usaha untuk memahami makna diluar konteksnya.
Dengan ini jelaslah bahwa seseorang tidak bisa meremehkan konteks jika ia ingin memperoleh kebenaran dari apa yang dikatakan, sekalipun hamper setiap kalimat bisa terdistorsi dari maksud aslinya.
Sekalipun saat ini hampir setiap orang membicarakan hermeneutika,
Tapi sumber-sumber tradisinya masih belum bisa digali dengan cara yang memadai. Oleh sebab itu kami akan sedikit menjelaskan tentang Hermeneutika dalam makalah ini.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian dari hermeneutika?
B.     Bagaimana cara kerja dari hermeneutika?
C.     Apa fungsi penting dari hermeneutika dalam studi islam?










III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian Hermeneutika
Kata hermeneutika berasal dari kata kerja Yunani hermeneuien yang berarti mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan, atau bertindak sebagai penafsir.[1] Dalam mitologi Yunani, ada seorang tokoh yang namanya dikaitkan dengan hermeneutik, yaitu Hermes. Menurut mitos, hermes bertugas untuk menafsirkan kehendak dewa dengan bantuan kata-kata manusia, agar manusia dapat memahami kehendak dewa, sebab bahasa dewa tidak dapat dipahami manusia. Ada berbagai spekulasi tentang siapa hermes sesungguhnya. Seyyed Hossein menyatakan bahwa dalam tradisi islam, Hermes tidak lain adalah nabi Idris.
Dalam bahasa Arabnya hermeneutika ini disebut juga dengan takwil, yakni memaknai antara lain ayat-ayat mutasyabihat atau sering disebut juga dengan ayat yang samar-samar, tidak jelas rujukannya seperti ungkapan-ungkapan Qurani Ya Sin, Alif Lam Ra, dan sebagainya. Metode ini pun bersetuju dengan kaum konstruksionis bahwa perilaku itu tidak ditentukan oleh hukum-hukum empiris, prinsip-prinsip rasional, atau sebab-sebab lingkungan yang tidak tergantung ( independen ) pada manusia.[2]
Dalam perkembangannya hingga sekarang ini, hermeneutik minimal mempunyai tiga pengertian. Pertama, dapat diartikan sebagai peralihan dari suatu yang relatif abstrak ( misalnya ide pemikiran ) kedalam bentuk ungkapan-ungkapan yang kongkret ( misalnya dengan bentuk bahasa ). Kedua, terdapat usaha mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui kedalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh pembaca. Ketiga, seseorang sedang memindahkan suatu ungkapan pikiran yang kurang jelas diubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih jelas.[3]
Pengertian hermeneutik erat hubunganya dengan penafsiran teks-teks dari masa lalu dan penjelasan perbuatan pelaku sejarah. Adalah tugas para sejarawan untuk memahami objek kajiannya dengan cara menafsirkan makna-makna dari setiap peristiwa, proses serta perbuatan keseluruan masyarakat. Sejarawan menjelaskan masa lalu dengan mencoba menghayati atau menempatkan dirinya dalam diri pelaku sejarah, mencoba memahami bagaimana pelaku sejarah berfikir, merasakan, berbuat. Dalam hal ini sejarawan harus juga menggunakan latar belakang kehidupan dengan seluruh pengalaman hidupnya sendiri sehingga ada semacam dialog di antara sejarawan dengan sumber-sumber sejarah yang digunakan.[4]
Munculnya hermeneutik bertujuan untuk menunjukkan ajaran tentang aturan-aturan yang harus diikuti menafsirkan sebuah teks dari masa lampau, khususnya teks dari kitab suci dan teks-teks klasik (Yunani dan Romawi).
Dengan demikian hermeneutika merupakan proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Definisi lain, hermeneutika metode atau cara untuk menafsirkan simbol berupa teks untuk dicari arti dan maknanya, metode ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa depan.
Tujuan akhir dari hermeneutika adalah pemahaman yang lebih baik atau pemaknaan dari interaksi barbagai konstruksi yang sudah ada, lalu dianalisis agar lebih mudah dipaami orang lain, sehingga ahirnya dicapailah sebuah konsensus.[5]

B.     Cara Kerja Hermeneutika
Pada dasarnya semua objek itu netral, sebab objek adalah objek. Sebuah meja disini atau bintang di angkasa berada begitu saja. Benda-benda itu tidak bermakna pada dirinya sendiri. Hanya subjeklah yang kemudian memberi arti pada objek. Subjek dan objek adalah term-term yang korelatif atau saling menghubungkan diri satu sama lain dan hubungan ini bersifat timbal balik. Tanpa subjek tidak akan ada objek. Arti atau makna diberikan kepada objek oleh subjek, sesuai dengan cara pandang subjek. Jika tidak demikian, maka objek menjadi tidak bernakna sama sekali.
Semua interpretasi mencakup pemahaman. Namun pemahaman tersebut sangat kompleks di dalam diri manusia sehingga para pemikir ulung atau psikolog tidak pernah mampu untuk menetapkan kapan sebenarnya seseorang mulai mengerti. Sebagai contoh misalnya : dapatkah kita melihat tepatnya waktu seseorang menangkap arti sebuah kalimat yang diucapkan?
Untuk dapat membuat interpretasi, lebih dahulu harus memahami atau mengerti. Mengerti dan interpretasi menimbulkan lingkaran hermeneutik. Mengerti secara sungguh-sungguh hanya akan dapat berkembang bila didasarkan atas pengetahuan yang benar.
Emilio Betti berpendapat bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalam mengerti, yaitu dengan menyelidiki setiap detail proses interpretasi. Ia juga harus merumuskan sebuah metodologi yang akan digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemungkinan masuknya pengaruh subjektivitas terhadap interpretasi yang diharapkan. Betti memandang interpretasi sebagai sarana untuk mengerti.
Hukum Betti tentang interpretasi”Sensus non est inferendus sed efferendus” makna bukan diambil dari kesimpulan tetapi harus diturunkan. Penafsir tidak boleh bersifat pasif tetapi merekonstruksi makna. Alatnya adalah cakrawala intelektul penafsir. Pengalaman masa lalu, hidupnya saat ini, latar belakng kebudayaan dan sejarah yang dimiliki.[6]

C.     Penggunaan dan Penerapan Hermeneutika Dalam Studi Islam
Pendekatan hermeneutika juga dapat digunakan dalam studi Islam. Menurut Palmer penggunaan hermeneutika bisa digunakan dalam bebarapa hal, meliputi:
1.      Teori penafsiran kitab suci ( Theory of biblical exegensis ).
2.      Hermeneotika sebagai filologi umum (general philological methodology).
3.      Hermeneutika sebagai ilmu tentang semua pemahaman bahasa (Science of all linguistic understanding).
4.      Hermeneutika sebagai metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan (Methodological foundation of geisteswissens chaften).
5.      Hermeneutik sebagai pemahaman eksistensial dan fenomenologi eksistensi (Phenomenology of existence dan of existential understanding).
6.      Sistem penafsiran (System of interpretation), dapat diterapkan baik seara kolektif maupun secara personal, untuk memahami makna yang terkandung dalam mitos-mitos ataupun symbol- symbol.[7]
Sebagai metodologi, dan ini yang menjadi kajian dalam bahasan ini, hermeneutika dapat bersifat subjektif dan objektif.
Hermeneutika subjektif, yang dikembangkan Martin Heideger dan Gadamer, bahwa sebagai pembaca teks, kita tidak mempunyai akses lengsung pada penulis disababkan adanya perbedaan waktu, ruang dan tradisi. Maka yang yang ingin ditemukan di sini adalah pengungkapan dalam segi temporalitas dan historisnya. Sementara hermeneutik objektifitas menegaskan, bahwa interpretasi berarti memahami teks sebagaimana yang dipahami pengarang.
Sedangkan hermeneutik aliran objektifitas di kembangkan oleh tokoh-tokoh klasik pula khususnya Friederick Schleiermacher (1768-1834) dan Wilhelm Dilthey  (1833-1911).[8]
Dari uraian di atas kita dapat memahami pentingnya hermeneutika dan penerapannya yang cukup luas pada ilmu-ilmu kemanusiaan, sejarah, kesusastraan serta agama. Jika pendalaman manusia yang dingkapkan dalam bentuk bahasa tempak asing bagi pembaca berikutnya maka perlulah untuk ditafsirkan secara benar.
Disiplin ilmu yang pertama yang banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci. Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi ilahi seperti Al-Qur’an supaya dapat dimengerti memerlukan interpretasi atau hermeneutik. Teks sejarah yang ditulis dalam bahasa yang rumit yang beberapa abad tidak dipedulikan oleh para pembacanya, tidak dapat dipahami para pembacanya, tidak dapat dipahami dalam kurun waktu seseorang tanpa penafsiran yang benar. Dalam ruang lingkup kesusastraan, kebutuhan tentang hermeneutika sangatlah ditekankan. Tanpa interpretasi atau penafsiran, pembaca mungkin tidak akan mengerti atau menangkap jiwa zaman di mana kesusastraan itu dibuat.[9]

IV.             KESIMPULAN
hermeneutika adalah metode atau cara untuk menafsirkan simbol berupa teks untuk dicari arti dan maknanya, metode ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa depan.
Munculnya hermeneutik bertujuan untuk menunjukkan ajaran tentang aturan-aturan yang harus diikuti menafsirkan sebuah teks dari masa lampau, khususnya teks dari kitab suci dan teks-teks klasik (Yunani dan Romawi). Dengan demikian hermeneutika merupakan proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.
Pada dasarnya semua objek itu netral, sebab objek adalah objek. Hanya subjeklah yang kemudian memberi arti pada objek. Subjek dan objek adalah term-term yang korelatif atau saling menghubungkan diri satu sama lain dan hubungan ini bersifat timbal balik. Tanpa subjek tidak akan ada objek. Arti atau makna diberikan kepada objek oleh subjek, sesuai dengan cara pandang subjek. Jika tidak demikian, maka objek menjadi tidak bernakna sama sekali.
Menurut palmer penggunaan hermeneutika bisa digunakan dalam beberapa hal, meliputi:
v  Teori penafsiran kitab suci ( Theory of biblical exegensis ).
v  Hermeneotika sebagai filologi umum (general philological methodology).
v  Hermeneutika sebagai ilmu tentang semua pemahaman bahasa (Science of all linguistic understanding).
v  Hermeneutika sebagai metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan (Methodological foundation of geisteswissens chaften).
v  Hermeneutik sebagai pemahaman eksistensial dan fenomenologi eksistensi (Phenomenology of existence dan of existential understanding).
v  Sistem penafsiran (System of interpretation), dapat diterapkan baik seara kolektif maupun secara personal, untuk memahami makna yang terkandung dalam mitos-mitos ataupun symbol- symbol.

V.                PENUTUP
          Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan, pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan cara pemakalah menyampaikan jauh dari kesempurnaan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki setiap kesalahan yang ada. Tidak lupa pula pemakalah mengucapkan rasa syukur terhadap Allah swt serta terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah.









DAFTAR PUSTAKA
Abdul Latief, Juraid, Manusia, Filsafat, dan Sejarah,  Jakarta : PT Bumi Aksara, 2006
Awasilah, Chaedar Filsafat Bahasa dan Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010
Naim, Ngainun, Pengantar Studi Islam,Yogyakarta:Teras,2009
Nasution, Khoirudin, Pengantar Studi Islam,Yogyakarta : ACAdeMIA + TAZZAFA, 2009
Sumaryono,E, Hermeneutik, Yogyakarta:Penerbit Kanisius
http//:Kuliahfilsafat.blogspot.com/2009/05/definisihermeneutika.html. download 28 April 2012




[1] Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam, ( Yogyakarta: Teras,2009 ), hal. 112
[2] Dr. Juraid Abdul Latief, M.Hum, Manusia, Filsafat, dan Sejarah, ( Jakarta : PT Bumi Aksara, 2006 ), hal. 125
[3] Ngainun, Pengantar Studi Islam, hal. 113
[4] Dr. Juraid, M.Hum, Manusia, Filsafat, dan Sejarah, hal. 89

[5] Prof. Dr. A. Chaedar Awasilah, M.A., Filsafat Bahasa dan Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010),  hlm. 127
[6] E.Sumaryono, Hermeneutik, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1999), hal.30-31
[7] http://Kuliahfilsafat.blogspot.com/2009/05/definisihermeneutika.html. download 28 April 2012
[8] Prof. Dr. Khoirudin Nasution, MA, Pengantar Studi Islam, ( Yogyakarta: ACAdeMIA + TAZZAFA, 2009 ), hal. 227
[9] E.Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 28-29