PENGGUNAAN HERMENEUTIKA DALAM STUDI
ISLAM
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah : Pengantar Studi Islam
Dosen Pengampu : Ahmad Zuhruddin, M. Ag
![]() |
Disusun Oleh :
Siti Nurul Hidayah : 113211076
Syawa’iqul Muhriqoh Zain : 113211077
Fatchul Amar :
113211081
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
I.
PENDAHULUAN
Hermeneutika
merupakan suatu disiplin yang bersangkut paut dengan motif-motif dan
maksud-maksud yang dengan mudah bisa diketahui melalui kata-kata yang ada
secara eksplisit.
Hermeneutika
disesuaikan dengan dimensi yang tak terkatakan ini sejauh dia mendefinisikan
dirinya sendiri secara traxisional sebagai usaha untuk memahami makna diluar
konteksnya.
Dengan ini
jelaslah bahwa seseorang tidak bisa meremehkan konteks jika ia ingin memperoleh
kebenaran dari apa yang dikatakan, sekalipun hamper setiap kalimat bisa
terdistorsi dari maksud aslinya.
Sekalipun saat ini
hampir setiap orang membicarakan hermeneutika,
Tapi sumber-sumber tradisinya masih
belum bisa digali dengan cara yang memadai. Oleh sebab itu kami akan sedikit
menjelaskan tentang Hermeneutika dalam makalah ini.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa pengertian dari hermeneutika?
B.
Bagaimana cara kerja dari
hermeneutika?
C.
Apa fungsi penting dari
hermeneutika dalam studi islam?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Hermeneutika
Kata hermeneutika
berasal dari kata kerja Yunani hermeneuien yang berarti mengartikan,
menafsirkan, menerjemahkan, atau bertindak sebagai penafsir.[1]
Dalam mitologi Yunani, ada seorang tokoh yang namanya dikaitkan dengan
hermeneutik, yaitu Hermes. Menurut mitos, hermes bertugas untuk menafsirkan
kehendak dewa dengan bantuan kata-kata manusia, agar manusia dapat memahami
kehendak dewa, sebab bahasa dewa tidak dapat dipahami manusia. Ada berbagai
spekulasi tentang siapa hermes sesungguhnya. Seyyed Hossein menyatakan bahwa
dalam tradisi islam, Hermes tidak lain adalah nabi Idris.
Dalam bahasa Arabnya hermeneutika ini disebut juga
dengan takwil, yakni memaknai antara lain ayat-ayat mutasyabihat
atau sering disebut juga dengan ayat yang samar-samar, tidak jelas rujukannya
seperti ungkapan-ungkapan Qurani Ya Sin, Alif Lam Ra, dan sebagainya. Metode
ini pun bersetuju dengan kaum konstruksionis bahwa perilaku itu tidak
ditentukan oleh hukum-hukum empiris, prinsip-prinsip rasional, atau sebab-sebab
lingkungan yang tidak tergantung ( independen ) pada manusia.[2]
Dalam
perkembangannya hingga sekarang ini, hermeneutik minimal mempunyai tiga
pengertian. Pertama, dapat diartikan sebagai peralihan dari suatu yang
relatif abstrak ( misalnya ide pemikiran ) kedalam bentuk ungkapan-ungkapan
yang kongkret ( misalnya dengan bentuk bahasa ). Kedua, terdapat usaha
mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui kedalam
bahasa lain yang bisa dimengerti oleh pembaca. Ketiga, seseorang sedang
memindahkan suatu ungkapan pikiran yang kurang jelas diubah menjadi bentuk
ungkapan yang lebih jelas.[3]
Pengertian hermeneutik erat hubunganya dengan
penafsiran teks-teks dari masa lalu dan penjelasan perbuatan pelaku sejarah.
Adalah tugas para sejarawan untuk memahami objek kajiannya dengan cara
menafsirkan makna-makna dari setiap peristiwa, proses serta perbuatan
keseluruan masyarakat. Sejarawan menjelaskan masa lalu dengan mencoba
menghayati atau menempatkan dirinya dalam diri pelaku sejarah, mencoba memahami
bagaimana pelaku sejarah berfikir, merasakan, berbuat. Dalam hal ini sejarawan
harus juga menggunakan latar belakang kehidupan dengan seluruh pengalaman hidupnya
sendiri sehingga ada semacam dialog di antara sejarawan dengan sumber-sumber
sejarah yang digunakan.[4]
Munculnya hermeneutik bertujuan untuk menunjukkan
ajaran tentang aturan-aturan yang harus diikuti menafsirkan sebuah teks dari
masa lampau, khususnya teks dari kitab suci dan teks-teks klasik (Yunani dan
Romawi).
Dengan demikian
hermeneutika merupakan proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan
menjadi mengerti. Definisi lain, hermeneutika metode atau cara untuk
menafsirkan simbol berupa teks untuk dicari arti dan maknanya, metode ini
mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami,
kemudian dibawa ke masa
depan.
Tujuan akhir dari hermeneutika adalah pemahaman
yang lebih baik atau pemaknaan dari interaksi barbagai konstruksi yang sudah
ada, lalu dianalisis agar lebih mudah dipaami orang lain, sehingga ahirnya
dicapailah sebuah konsensus.[5]
B.
Cara Kerja Hermeneutika
Pada dasarnya
semua objek itu netral, sebab objek adalah objek. Sebuah meja disini atau
bintang di angkasa berada begitu saja. Benda-benda itu tidak bermakna pada
dirinya sendiri. Hanya subjeklah yang kemudian memberi arti pada objek. Subjek
dan objek adalah term-term yang korelatif atau saling menghubungkan diri satu
sama lain dan hubungan ini bersifat timbal balik. Tanpa subjek tidak akan ada
objek. Arti atau makna diberikan kepada objek oleh subjek, sesuai dengan cara
pandang subjek. Jika tidak demikian, maka objek menjadi tidak bernakna sama
sekali.
Semua interpretasi mencakup pemahaman. Namun
pemahaman tersebut sangat kompleks di dalam diri manusia sehingga para pemikir
ulung atau psikolog tidak pernah mampu untuk menetapkan kapan sebenarnya
seseorang mulai mengerti. Sebagai contoh misalnya : dapatkah kita melihat
tepatnya waktu seseorang menangkap arti sebuah kalimat yang diucapkan?
Untuk dapat
membuat interpretasi, lebih dahulu harus memahami atau mengerti. Mengerti dan
interpretasi menimbulkan lingkaran hermeneutik. Mengerti secara sungguh-sungguh
hanya akan dapat berkembang bila didasarkan atas pengetahuan yang benar.
Emilio Betti berpendapat bahwa tugas orang yang
melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalam mengerti, yaitu dengan
menyelidiki setiap detail proses interpretasi. Ia juga harus merumuskan sebuah
metodologi yang akan digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemungkinan
masuknya pengaruh subjektivitas terhadap interpretasi yang diharapkan. Betti
memandang interpretasi sebagai sarana untuk mengerti.
Hukum Betti
tentang interpretasi”Sensus non est inferendus sed efferendus”
makna bukan diambil dari kesimpulan tetapi harus diturunkan. Penafsir tidak
boleh bersifat pasif tetapi merekonstruksi makna. Alatnya adalah cakrawala
intelektul penafsir. Pengalaman masa lalu, hidupnya saat ini, latar belakng
kebudayaan dan sejarah yang dimiliki.[6]
C.
Penggunaan dan Penerapan Hermeneutika Dalam Studi Islam
Pendekatan hermeneutika juga dapat digunakan dalam
studi Islam. Menurut Palmer penggunaan hermeneutika bisa digunakan dalam
bebarapa hal, meliputi:
1.
Teori penafsiran kitab suci (
Theory of biblical exegensis ).
2.
Hermeneotika sebagai filologi umum
(general philological methodology).
3.
Hermeneutika sebagai ilmu tentang
semua pemahaman bahasa (Science of all linguistic understanding).
4.
Hermeneutika sebagai metodologis
dari ilmu-ilmu kemanusiaan (Methodological foundation of geisteswissens chaften).
5.
Hermeneutik sebagai pemahaman
eksistensial dan fenomenologi eksistensi (Phenomenology of existence dan of
existential understanding).
6.
Sistem penafsiran (System of
interpretation), dapat diterapkan baik seara kolektif maupun secara personal,
untuk memahami makna yang terkandung dalam mitos-mitos ataupun symbol- symbol.[7]
Sebagai metodologi, dan ini yang menjadi kajian
dalam bahasan ini, hermeneutika dapat bersifat subjektif dan objektif.
Hermeneutika subjektif, yang dikembangkan Martin
Heideger dan Gadamer, bahwa sebagai pembaca teks, kita tidak mempunyai akses
lengsung pada penulis disababkan adanya perbedaan waktu, ruang dan tradisi.
Maka yang yang ingin ditemukan di sini adalah pengungkapan dalam segi
temporalitas dan historisnya. Sementara hermeneutik objektifitas menegaskan,
bahwa interpretasi berarti memahami teks sebagaimana yang dipahami pengarang.
Sedangkan
hermeneutik aliran objektifitas di kembangkan oleh tokoh-tokoh klasik pula
khususnya Friederick Schleiermacher (1768-1834) dan Wilhelm Dilthey (1833-1911).[8]
Dari uraian di atas kita dapat memahami pentingnya
hermeneutika dan penerapannya yang cukup luas pada ilmu-ilmu kemanusiaan,
sejarah, kesusastraan serta agama. Jika pendalaman manusia yang dingkapkan dalam
bentuk bahasa tempak asing bagi pembaca berikutnya maka perlulah untuk
ditafsirkan secara benar.
Disiplin ilmu yang pertama yang banyak menggunakan
hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci. Sebab semua karya yang mendapatkan
inspirasi ilahi seperti Al-Qur’an supaya dapat dimengerti memerlukan
interpretasi atau hermeneutik. Teks sejarah yang ditulis dalam bahasa yang
rumit yang beberapa abad tidak dipedulikan oleh para pembacanya, tidak dapat
dipahami para pembacanya, tidak dapat dipahami dalam kurun waktu seseorang
tanpa penafsiran yang benar. Dalam ruang lingkup kesusastraan, kebutuhan
tentang hermeneutika sangatlah ditekankan. Tanpa interpretasi atau penafsiran,
pembaca mungkin tidak akan mengerti atau menangkap jiwa zaman di mana
kesusastraan itu dibuat.[9]
IV.
KESIMPULAN
hermeneutika adalah metode atau cara untuk menafsirkan simbol
berupa teks untuk dicari arti dan maknanya, metode ini mensyaratkan adanya
kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke
masa depan.
Munculnya hermeneutik bertujuan untuk menunjukkan
ajaran tentang aturan-aturan yang harus diikuti menafsirkan sebuah teks dari
masa lampau, khususnya teks dari kitab suci dan teks-teks klasik (Yunani dan
Romawi). Dengan demikian hermeneutika merupakan proses mengubah sesuatu
atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.
Pada dasarnya
semua objek itu netral, sebab objek adalah objek. Hanya subjeklah yang kemudian
memberi arti pada objek. Subjek dan objek adalah term-term yang korelatif atau
saling menghubungkan diri satu sama lain dan hubungan ini bersifat timbal
balik. Tanpa subjek tidak akan ada objek. Arti atau makna diberikan kepada
objek oleh subjek, sesuai dengan cara pandang subjek. Jika tidak demikian, maka
objek menjadi tidak bernakna sama sekali.
Menurut palmer penggunaan hermeneutika bisa
digunakan dalam beberapa hal, meliputi:
v
Teori penafsiran kitab suci
( Theory of biblical exegensis ).
v
Hermeneotika sebagai
filologi umum (general philological methodology).
v
Hermeneutika sebagai ilmu
tentang semua pemahaman bahasa (Science of all linguistic understanding).
v
Hermeneutika sebagai
metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan (Methodological foundation of
geisteswissens chaften).
v
Hermeneutik sebagai
pemahaman eksistensial dan fenomenologi eksistensi (Phenomenology of
existence dan of existential understanding).
v
Sistem penafsiran (System
of interpretation), dapat diterapkan baik seara kolektif maupun secara
personal, untuk memahami makna yang terkandung dalam mitos-mitos ataupun
symbol- symbol.
V.
PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan, pemakalah
menyadari dalam proses pembuatan dan cara pemakalah menyampaikan jauh dari
kesempurnaan, pemakalah sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun
untuk memperbaiki setiap kesalahan yang ada. Tidak lupa pula pemakalah mengucapkan rasa
syukur terhadap Allah swt serta terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu
dalam proses pembuatan makalah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Latief, Juraid, Manusia, Filsafat, dan
Sejarah, Jakarta : PT Bumi Aksara, 2006
Awasilah, Chaedar Filsafat Bahasa dan Pendidikan, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2010
Naim, Ngainun, Pengantar Studi Islam,Yogyakarta:Teras,2009
Nasution, Khoirudin, Pengantar Studi Islam,Yogyakarta : ACAdeMIA + TAZZAFA, 2009
Sumaryono,E, Hermeneutik, Yogyakarta:Penerbit Kanisius
http//:Kuliahfilsafat.blogspot.com/2009/05/definisihermeneutika.html. download
28 April 2012
[1]
Ngainun Naim, Pengantar Studi Islam, ( Yogyakarta: Teras,2009 ), hal. 112
[2]
Dr. Juraid Abdul Latief, M.Hum, Manusia, Filsafat, dan Sejarah, ( Jakarta : PT
Bumi Aksara, 2006 ), hal. 125
[3] Ngainun,
Pengantar Studi Islam, hal. 113
[5] Prof. Dr. A. Chaedar Awasilah, M.A., Filsafat
Bahasa dan Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 127
[6] E.Sumaryono,
Hermeneutik, (Yogyakarta : Penerbit
Kanisius, 1999), hal.30-31
[7] http://Kuliahfilsafat.blogspot.com/2009/05/definisihermeneutika.html.
download 28 April 2012
[8]
Prof. Dr. Khoirudin Nasution, MA, Pengantar Studi Islam, ( Yogyakarta: ACAdeMIA + TAZZAFA, 2009 ), hal.
227
[9]
E.Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 28-29
